Ini hanya sebuah penggalan kejadian dari cerita yang akan dibuat, namun ternyata ini hanya menjadi kutipan cerita yang tak terselesaikan :D . selamat menikmati
____________________________________________________________________________________
Saat aku sedang berjalan ditaman, aku melihat sebuah pohon yang berdiri sendiri ditengah taman. Saat itu aku teringat kalau tempat itu adalah tempat dimana aku bertemu dengan Roan. Walaupun sebenarnya saat itu dia menggangguku sedang membaca buku, tapi rasanya tak ku sesali pertemuan itu. Tiba-tiba terdengar seseorang sedang mencariku.
“Nona Vina, kamu dimana nona? Jangan pergi sendirian ditengah hujan seperti ini.”
Ternyata saat orang tersebut mendekat, orang itu tuan Hail, pelayan keluargaku yang khusus mengurusku sejak aku masih kecil. Aku yang sekuat tenaga menahan tangis ini tak mampu lagi membendungnya.
“Hail” sambil berlari kearahnya.
“Nona? Anda tak apa-apa?”
“Aku menyesal Hail, aku menyesal tak menjawab ajakan Roan saat itu, aku malah pergi dengan Ryo.” sambil menangis.
Akhirnya aku pun pulang karena tuan Hail sendiri yang mencariku.
Sesampainya dirumah, walaupun badanku sudah dihangatkan dan perasaanku mulai tenang, tapi bayang-bayang saat Roan memeluk Ita tak semudah itu hilang. Tuan Hail menyarankanku untuk tidur daripada harus memikirkannya semalaman. Rasa lelah dan dingin dari hujan mendukung saran tuan Hail, akhirnya aku mencoba untuk tidur dan berharap keesokan hari ketika ku terbangun aku sudah melupakan kejadian itu.
Pagi yang mendung menyambutku saatku terbangun. Karena kebiasaan, hal yang biasa aku cek pertama kali adalah kotak masuk di e-mail ku. Aku mendapati e-mail dari Roan diterima jam 0:44 yang berisi ‘Ada waktu senggang gak? Aku tunggu dirumah’. Tanpa pikir panjang, aku segera bersiap untuk menuju rumah Roan dan segera berangkat.
Sesampainya disana, sebelum aku masuk ke rumahnya, aku menarik nafas yang dalam dulu supaya terlihat seolah tak terjadi apa-apa padaku kemarin. Setelah aku masuk melewati pagar rumahnya, aku menemuinya sedang duduk di kursi taman.
“Kukira kau bakal datang nanti siang.” kata Roan sambil menatapku dengan pandangan lemas.
Lalu ia mengajaku masuk. Seperti biasa ia jarang basa-basi, setelah kami duduk di ruang tengah dan berdiam sebentar, Roan langsung berbicara pada inti permasalahan.
“Aku merasa sesal tak bertemu Ita dari dulu, padahal aku bisa saja membantunya agar tak mendapat masalah.” Sambil tertunduk dengan ekspresi datar.
“Memang ada apa dengannya?” bertanya sambil menahan perasaan kesal.
“Kakaknya dihukum mati kemarin karena dituduh telah membunuh 4 orang secara brutal. Padahal ia melindungi adiknya, Ita yang mau diperkosa oleh 4 orang debt collectors itu. Aku mencoba menyemangatinya, namun ternyata itu tak mengubah apapun.” dengan nada agak kesal dan sedih namun tanpa ekspresi.
“Lalu bagaimana ia sekarang?” bertanya untuk mencoba mengetahui perasaannya.
“Setelah bertemu untuk terakhir kalinya dengan kakaknya, ia semalam pulang kerumah orang tuanya di kota Junshin. Kau tau apa kata terakhirnya padaku?”
“Memang apa?” dengan sangat penasaran.
“Jangan biarkan orang yang kau cintai berkorban demi dirimu, dia berkata seperti itu sambil tersenyum.” dengan wajah yang menampakan ia kesal. Roan pun terbaring. Terdengar suara petir menyambar lalu Roan mengatakan suatu hal padaku.
“Vina, aku benci wanita. Karena mereka terlalu tangguh.”
XXXX
Tidak ada komentar:
Posting Komentar